November 6, 2009
CEO Apple Steve Jobs Dinamai Majalah Fortune Sebagai “CEO of The Decade”
Sebuah ucapan selamat untuk pengguna produk Apple, ’sang Tuhan’ (haha, just kidding
) yang tak lain adalah CEO dari Apple Inc., Steve Jobs, dinamai oleh majalah Fortunes sebagai ‘CEO of The Decade’. Yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, berarti ‘CEO terbaik Sedekade ini’.

Memang sangat pantas kalau seve Jobs diberikan gelar ini, karena kontribusinya terhadap perubahan-perubahan dan kemajuan dalam dunia teknologi maupun keberhasilannya mengembalikan Apple dari perusahaan yang dirundung kebangkrutan pada pertengahan 90-an sampai sekarang jadi kompetitor terbesar Microsoft membuktikan betapa briliannya ia sebagai CEO. Tentu, Microsoft juga memainkan peran sebagai investor yang menyelamatkan Apple pada tahun 1997. Sebuah ironi bukan?
Selain itu, hampir setiap beberapa tahun kita melihat Apple dianggap remeh, dan masuk ke sektor industri yang tadinya belum pernah mereka jamah. iPod, iPhone, dan mungkin iTablet membuat Apple kini mungkin adalah satu-satunya perusahaan yang masih jadi harapan sebagai sumber datangnya inovasi, yang tentu saja tidak datang begitu saja, tapi karena arahan CEO-nya, Steve Jobs, yang tak pernah mau mundur kalau visinya tak terpenuhi.
Tentu saja Steve Jobs juga bukan malaikat. Ia pun punya kekurangan. Ia dikenal sangat intens, dan tak malu-malu untuk menghina dan ‘menghancurkan’ pegawainya apabila ia menilai pekerjaan pegawainya kurang sempurna.
Hal ini juga yang jadi salah satu pemicu mengapa manajemen Apple memilih untuk berpisah dengannya pada 1985, setahun sesudah Apple merilis ‘anak emas’ Steve Jobs yaitu Macintosh, yang kita tahu sebagai komputer pertama yang memiliki GUI dan menggunakan mouse. Ia saat itu marah besar dengan CEO Apple, John Sculley, yang ia anggap berkhianat karena mengambil alih ‘anak’-nya sendiri. Seluruh manajemen Apple saat itu memilih Sculley daripada Steve Jobs.
Ini tentu cobaan berat untuk Steve Jobs, yang setahun sebelumnya berhasil menelurkan Macintosh, komputer dengan Graphical User Interface (GUI) pertama yang dilengkapi Mouse. Inilah ‘anak emas’nya. Yang ia anggap sebagai ‘the holy grail’ dalam perangnya melawan dominasi IBM.

Tapi ia tak menyerah. Setelah meninggalkan Apple, Steve Jobs memulai NeXT, yang salah satu produk komputernya digunakan oleh Sr. Tim Berners Lee untuk membuat apa yang sekarang dikenal sebagai World Wide Web (WWW). Dari situ pula Steve Jobs lalu memulai Pixar, sebuah studio film dengan spesialisasi animasi komputer yang hingga saat ini tidak pernah gagal dalam membuat hit film di box office, yang lalu diakuisisi Disney.
Setelah mencapai kesuksesan dengan dua perusahaan inilah, ia lalu dipanggil kembali untuk menjadi CEO Apple yang setelah melewati berbagai pergantian CEO, sedang dirundung kesulitan. Ia pun dianggap jadi orang yang tepat untuk mengembalikan inovasi kedalam tubuh Apple. Yang ia lakukan: simplifikasi. Dan ia pun jadi penyelamat perusahaan yang ia bangun berdua dengan The Woz (Steve Wozniak) ini.
Banyak yang dapat dipelajari dari seorang Steve Jobs. Keyakinan terhadap visinya sendiri, kepercayaan diri, idealisme, dankegigihannya dalam berjuang. Yang terakhir terutama dapat terlihat saat ia terpaksa absen dari kursi pimpinan Apple karena kanker pankreas dan masalah dengan hatinya yang membuat banyak analis ‘ketakutan’ karena kehilangan figurnya. Tapi ternyata ia lalu muncul lagi, masih kuat, masih eksentrik, dan masih gigih melawan dominasi. Tentang valuasinya sebagai trilyuner, itu hanya bonus.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Steve Jobs dan Gelar ‘CEO of The Decade’-nya, silahkan lihat artikel lengkapnya, dan untuk yang menyukai kisah dramatisasi romantisme perjuangan seorang Steve Jobs dan kepintaran Bill Gates, i.e Geeks, bisa cari film “Pirates of Sillicon Valley‘. Dijamin seru.
Popularity: 3% [?]


